Peningkatan Kompetensi guru di Sekolah Kepulauan

Untuk menjamin keberhasilan pembelajaran, guru harus mampu mengikuti banyak kemajuan di bidangnya dan memajukan keahliannya sendiri. Kompetensi profesional, pedagogik, kepribadian, dan sosial semuanya diperlukan bagi guru untuk memberikan pengajaran yang berkualitas tinggi. Kompetensi ini sangat penting bagi guru sebagai seorang pendidik.


Mengingat peran penting mereka dalam prestasi siswa, pendidik harus memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Hingga saat ini, pendidikan Indonesia menghadapi sejumlah tantangan, khususnya yang berkaitan dengan pendidikan di daerah pedesaan dan daerah-daerah yang mengalami ketertinggalan. Yang lebih penting lagi, keterampilan kepribadian dan sosial diperlukan, khususnya bagi para pendidik yang juga merupakan manajer pembelajaran.

Kapasitas seorang guru untuk mengenali tempatnya dalam masyarakat dan melaksanakan tanggung jawabnya sebagai warga negara dan anggota komunitas tersebut disebut kompetensi sosial. Selain itu, kompetensi sosial mencakup kemampuan menyesuaikan diri dengan kebutuhan lingkungan kerja dan konteks sekitarnya.

Salah satu aspek kebudayaan suatu masyarakat yang tidak dapat dilepaskan dari bahasa yang digunakan dalam masyarakat tersebut adalah kearifan lokal. Tradisi lisan biasanya merupakan sarana yang mewariskan kearifan lokal dari satu generasi ke generasi berikutnya. Peribahasa, lagu, cerita rakyat, dan permainan tradisional semuanya mengandung kearifan lokal.

Kearifan lokal biasanya menyebar melalui tradisi lisan dalam suatu masyarakat, seperti contohnya tarian Cakalele, Maluku. Kemampuan kearifan lokal dalam menoleransi aspek budaya asing sekaligus bertahan terhadap peradaban eksternal atau baru merupakan salah satu ciri pembedanya. Guru memiliki kompetensi tersebut bukan karena mereka berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa, melainkan karena mereka bekerja keras untuk mewujudkan peradaban yang lebih baik. Oleh karena itu, penting untuk memanfaatkan keterampilan sosial guru dengan baik untuk membantu pengembangan nilai-nilai kedaerahan. Hubungan guru dengan siswanya merupakan cerminan kompetensi sosialnya.

Kemampuan memberikan pengetahuan, kompetensi, kemandirian, penguasaan, dan profesionalisme kerja yang tinggi diharapkan oleh program studi agar kegiatan kerja yang diselesaikan menghasilkan bentuk pelayanan yang konsisten atau dapat diandalkan bagi pengguna yang dalam hal ini merupakan para siswa sebagai penerima pendidikan.

Memastikan pentingnya daya tanggap dan kualitas layanan terhadap pelayanan yang diberikan oleh pengelola program studi sangatlah penting. Bagi setiap siswa diperlukan penjelasan yang jelas dan mudah dipahami. Untuk memperjelas hal-hal tersebut, daya tanggap memainkan peran penting dalam memenuhi berbagai pembenaran saat memberikan layanan kepada siswa.

Gagasan kualitas pelayanan dalam kaitannya dengan kepuasan pengguna dapat ditentukan oleh lima faktor. Hal-hal tersebut adalah kebenaran, jaminan, daya tanggap, empati, dan ketergantungan.
Inti dari kualitas layanan, terutama jika menyangkut kepuasan pengguna, adalah kemampuan individu untuk melakukan tugas dengan andal, untuk menunjukkan daya tanggap dalam segala bentuk aktualisasi layanan yang menyenangkan. Untuk menumbuhkan kepastian, untuk menunjukkan empati ketika memberikan layanan, dan untuk menyajikan kebenaran.

Kepastian mengenai pelayanan yang diberikan diperlukan untuk semua jenis pelayanan. Faktor utama yang mempengaruhi jenis kepastian pelayanan adalah adanya jaminan program studi bahwa pelayanan akan diberikan sedemikian rupa sehingga dapat memuaskan klien dan memberikan keyakinan bahwa segala bentuk urusan pelayanan akan ditangani dengan baik. baik dari segi ketepatan waktu, ketepatan, kemudahan, kelancaran, dan kualitas layanan yang diberikan.
Untuk melakukan kegiatan pelayanan, seseorang harus memahami dan menyadari keyakinan atau kepentingan umum yang berkaitan dengan layanan tersebut. Jika semua pihak yang terlibat memiliki komitmen yang sama untuk memberikan layanan berkualitas tinggi dan menunjukkan empati atau kepedulian terhadap tugas yang ada, layanan akan berjalan dengan lancar.

Faktor-Faktor yang Mendorong Kompetensi Sosial Guru :

Karena sekolah adalah tempat berkumpulnya orang-orang untuk bekerja sama mencapai tujuan bersama, peningkatan kompetensi guru—terutama kompetensi sosial—memerlukan upaya yang ekstensif. 

Sumber daya manusia seperti pengelola sekolah, instruktur, tenaga pendukung, siswa, orang tua, dan masyarakat merupakan mayoritas dari komponen-komponen tersebut. Oleh karena itu, sekolah sangatlah penting, meskipun ada faktor-faktor lain yang dipertimbangkan. Sebab, kepala sekolah merupakan salah satu kekuatan utama di balik peningkatan kompetensi sosial guru.

Pentingnya partisipasi berbagai penyedia kepentingan, termasuk masyarakat, dalam pelaksanaan program pendidikan. Masyarakat dapat dilibatkan dalam proses pendidikan, oleh karena itu hal ini merupakan kearifan lokal yang patut untuk ditularkan. Berikut ini adalah elemen-elemen yang membantu guru menjadi lebih kompeten secara sosial:

1. Menumbuhkan Hati Nurani, mengembangkan kesadaran dan penerapan persatuan.

Penting untuk ditekankan bahwa siswa perlu menyadari siapa mereka dan bahwa alasan utama mereka berada di sekolah ini adalah untuk melanjutkan pendidikan mereka. Untuk menanamkan nilai-nilai kearifan lokal dan mencontohkannya dalam interaksinya dengan siswa dan guru lainnya, guru juga harus mampu menerapkan kompetensi sosial yang dimilikinya.

2. Nilai-nilai Kearifan Lokal Masyarakat
Dalam masyarakat.

Dalam masyarakat Luhu contohnya, cara hidup komunal telah diwariskan secara turun-temurun dan berkembang menjadi sebuah kebiasaan. Akibatnya, nilai-nilai tersebut sudah tertanam dalam proses pembelajaran di kelas, meskipun sebagian guru masih belum mendidik siswanya untuk menghargai cara hidup masyarakat setempat. Misalnya dalam pendidikan agama, pengajar memberikan contoh-contoh spesifik mengenai adat budaya mana yang diperbolehkan dan mana yang dilarang oleh agama.

Beberapa strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kompetensi guru:

1. Pelatihan dan Pengembangan Profesional.
Guru perlu terus mengikuti pelatihan dan pengembangan profesional untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam mengajar.

2. Kolaborasi dan Pertukaran Pengetahuan.
Guru dapat meningkatkan kompetensinya dengan berkolaborasi dengan rekan sejawat dan berbagi pengetahuan dan pengalaman.

3. Penggunaan Teknologi dalam Pembelajaran.
Teknologi dapat menjadi alat yang efektif untuk meningkatkan kompetensi guru. Guru dapat menggunakan teknologi seperti komputer, tablet, atau perangkat mobile untuk mencari sumber daya pembelajaran, mengembangkan materi pembelajaran interaktif, atau menggunakan aplikasi pembelajaran yang inovatif.

4. Refleksi dan Evaluasi Diri.
Guru perlu melakukan refleksi terhadap praktik pengajaran mereka sendiri dan terus melakukan evaluasi diri untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru dapat melakukan refleksi melalui jurnal pengajaran, observasi kelas oleh rekan sejawat atau supervisor, atau melalui feedback dari siswa.

5. Partisipasi dalam Komunitas Profesional.
Guru dapat meningkatkan kompetensinya dengan aktif berpartisipasi dalam komunitas profesional seperti asosiasi guru, kelompok studi, atau forum online.


Guru yang menyeimbangkan tanggung jawab bertani dan terbatasnya kemampuan mereka dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di kelas termasuk laptop, layar LCD, dan peralatan lainnya, merupakan contoh hambatan teknis dalam meningkatkan kompetensi sosial. 

Meskipun demikian, bias negatif biasanya menjadi faktor utama yang menghambat kompetensi sosial guru dalam kaitannya dengan riset kearifan lokal di SMA Negeri 2 Seram Bagian Barat, seperti yang terungkap dalam temuan penelitian:

1. Kesenjangan
Sikap berprasangka buruk adalah sikap yang ditujukan terhadap kelompok etnis tertentu karena terbatasnya atau tidak adanya pengalaman seseorang dengan kelompok etnis tersebut. Prasangka mempunyai beberapa dampak negatif, seperti menimbulkan jarak sosial, diskriminasi, dan menjadikan orang lain sebagai sasaran.

2. Tidak Ada Cukup Ruang bagi Guru
Guru membutuhkan ruang untuk menjadi otentik dan membangun hubungan positif dengan masyarakat. Menurut salah satu guru SMA Negeri 2 Seram Barat, pendidik dengan beban kerja berat dan kemampuan bersosialisasi hendaknya mampu menjadi role model bagi orang lain dan menjadi wadah dalam menjalin hubungan.


Sebenarnya tidak ada cara yang khusus untuk meningkatkan kompetensi kepribadian guru, namun secara umum strategi peningkatan kompetensi guru antara lain dengan mengadakan rapat evaluasi bulanan, semester, dan tahunan terhadap kemajuan pengajaran. Pertemuan-pertemuan tersebut mencakup topik-topik seperti siapa yang mengembangkan materi pembelajaran, tantangan apa yang dihadapi guru di kelas, keberhasilan praktik pengajaran, hasil belajar siswa, dan motivasi belajar siswa. 

Hal ini juga mencakup memberikan apel pagi secara bergiliran, pengorganisasian kegiatan ekstrakurikuler, menugaskan guru untuk mengikuti pelatihan atau seminar, melakukan observasi langsung di kelas, dan mengadakan pertemuan evaluasi kinerja. Laporan semester merupakan suatu keharusan bagi semua guru. Meski masih banyak permasalahan di bidang pendidikan, hal ini dilakukan untuk meningkatkan standar pengajaran.
_


Nama: Rizki Nurun Qalbiyah
Mata kuliah: Kapita Selekta Pendidikan Islam
Program studi: Manajemen Pendidikan Islam FITK IAIN Ambon

Referensi:
Pengarang: Nur Hasanah
PENINGKATAN KOMPETENSI KEPRIBADIAN DAN SOSIAL GURU BERBASIS KEARIFAN LOKAL (Studi Analisis pada Sekolah di Daerah Tertinggal)
Penerbit: CV Literasi Nusantara Abadi
Tanggal terbit: 2023/5/1

Pengarang: Nur Hasanah
Supervisi Akademik Kepala Madrasah Sebagai Upaya Peningkatan Profesionalitas Guru di MA Bina Karya Hatawano SBB. Maluku
Tanggal terbit: 2023
Jurnal: Mangente
Jilid: 2
Terbitan: 2
Halaman: 240-248
Penerbit: Jurnal PkM

Pengarang: Nur Hasanah, Anita Wati Tukloy, M Sahrawi Saimima, Patrich Rahabav
STRATEGY FOR IMPROVING TEACHERS’SOCIAL COMPETENCY BASED ON LOCAL WISDOM AT SMA NEGERI 2 SERAM BARAT, HUAMUAL DISTRICT, MALUKU PROVINCE
Tanggal terbit: 2022
Jurnal: Imam Bonjol International Conference on Islamic Education
Halaman: 33-43